Budi Rahardjo’s Thoughts
Saya ingin cerita tentang pemanfaatan teknologi yang lagi-lagi nyleneh di Indonesia, yaitu tentang voucher pulsa seluler sebagai alat bayar.
Salah satu kesulitan transaksi elektronik (e-commerce) di Indonesia adalah belum adanya sistem pembayaran elektronik yang bisa digunakan untuk pembayaran dalam jumlah kecil, micropayment. Di luar negeri ada PayPal. Sayangnya mereka belum dapat digunakan di Indonesia secara penuh.
Sebagai contoh, misalnya saya ingin menjual sebuah artikel dengan harga Rp 1000,-. Bagaimana caranya? Pembayaran tidak dapat dilakukan dengan kartu kredit, bahkan dengan mesin ATM-pun tidak bisa dilakukan. Masalahnya adalah nilai nominal yang harus dibayarkan terlalu kecil. Biaya transaksinya malah lebih mahal.
Selidik punya selidik, ternyata ada acara pembayaran yang agak aneh yaitu dengan menggunakan voucer seluler. Misalnya saya ingin menjual sesuatu yang harganya murah, maka Anda bisa membeli voucher seluler dan mengisikannya untuk saya atau memberikan kodenya kepada saya sehingga bisa saya isikan ke handphone saya. Saya melihat cara ini dilakukan di dunia games, dimana anak-anak membuat karakter yang bagus kemudian menukarkannya dengan voucher. (Anak-anak kan belum punya account bank, apalagi kartu kredit.)
Nilai voucher tadinya memang masih terlalu besar, Rp 50 ribu. Sekarang sudah turun. Bahkan kemarin saya melihat iklan voucher yang nilainya Rp 1000,-. Hah? Ternyata dunia seluler memiliki infrastruktur untuk micropayment. (Catatan: ini “ancaman” buat bank. Sayang mereka tidak menyadarinya.)
Saya jadi kepikiran. Bagaimana kalau saya ambil sebuah nomor handphone prepaid, kemudian menerima sumbangan jika Anda menyukai tulisan-tulisan di blog-blog saya (baik yang ini maupun yang di tempat lain). Kira-kira ada yang mau mengirimkan voucher pulsa ke saya nggak ya? Resikonya kan kecil. Saya akan coba ah …
Tentu saja mekanisme ini masih memiliki kelemahan karena kalau nilai pulsa saya sangat besar, dia tidak (belum?) bisa diuangkan kembali. Kalau bisa diuangkan … wah, jadilah dia micropayment di Indonesia. Sekedar ide saja.
Artikel dituliskan oleh Budi Rahardjo pada Saturday, June 30th, 2007 pukul 9:24 am. Diarsipkan dalam kategori Teknologi. Anda dapat mengikuti diskusi melalui layanan sindikasi komentar.
Anda dapat mengikut diskusi dengan meninggalkan komentar, atau lacak balik dari situs Anda.
Ada 30 komentar untuk artikel ini. Ikuti diskusi
imcw
sebuah ide yang menarik pak Budi…mudah mudahan dibaca oleh pihak Bank…
sekarang di sekitar tempat tinggal saya malah Bank sejenis LPD (Lembaga Perkreditan Desa) yang ngetop sebab orang bisa nabung dengan nilai nominal 1000 rupiah, sedangkan bila ke bank kudu nyetor minimal 50rb…
June 30th, 2007 at 9:39 am
sueng
Apalagi beberapa operator sudah mulai mempunyai layanan transfer pulsa bisa makin mempermudah transaksi seperti ini pak. Kebayang kalau transfernya bisa antar operator , tapi mimpi kaleee karena harus ada settlement antar operator yang membuat cost baru. Kecuali kalau ada pihak ketiga penyelenggara layanan yang mempunyai bank pulsa beberapa operator, wah peluang baru nih, tapi rada susah menentukan fee-nya masak transfer 1000 perak fee nya 1000 perak.
June 30th, 2007 at 11:06 am
dnial
Waktu kuliah ADBO kemarin, dosennya ngasih ide untuk sistem pembayaran mesin minuman (vending sistem) dengan menggunakan miscall. Jadi kita memisscall ke nomor tertentu, trus pulsa penggunanya ditransfer ke pulsa penyedia sebesar harga minuman. Nanti pada akhir bulan diuangkan sama penyedia. Baru desain sistem sih…
Kalau tidak salah sistem sms premium kira-kira seperti itu. Bedanya sistem penjual minuman pakai miscall, yang sms premium pakai sms.
June 30th, 2007 at 11:15 am
Dedhi
dnial
model vending machine seperti itu sudah ada di Singapore kira kira sejak 4 tahun lalu. Tapi ternyata tidak ada yang mau pakai (kecuali saya). Sekitar 2 tahun lalu kebanyakan sudah rusak bagian itunya, dimatikan, dicoret bagian petunjuknya etc.
June 30th, 2007 at 12:18 pm
dikshie
di jepang, udah ada tuh pak. belanja pakai pulsa telp. cuma mesalahnya di jepang pakai mesin khusus. ponselnya disentuhkan/didekatkan kpd scanner khusus, nanti dia otomatis debet sendiri. (teknologi rfid?).
saya sendiri sudah pernah liat beberapa orang beli minuman botol yng cuma seharga 150 yen pakai ponsel seperti yng saya deskripsikan diatas.
nanti saya cari lagi deh keterangan lengkapnya.
June 30th, 2007 at 1:00 pm
dikshie
http://www.nttdocomo.co.jp/english/service/osaifu/index.html
June 30th, 2007 at 1:06 pm
ephi
Ide bagus, di Jepang juga teknologi bayar pakai ponsel udah mulai diterapkan tahun 2004, tapi malah tidak populer karena sedikit yang mendukung. (Newsweek, Jul 2-9, 2007, p. 8A)
June 30th, 2007 at 1:59 pm
M.Iqbal
Kami sedang mengimplementasikan semacam micropayment untuk masyarakat pedesaan. Kami menggunakan Microfinance Institutions (BPR dan BMT saat ini, sudah ada 8 yang bergabung) sebagai service point untuk top-up dan remittance uang melalui SMS. Peran kami di sini sebagai technical acquirer bagi mereka. System kami bisa memfasilitasi transaksi keuangan antar BPR & BMT dan antar nasabah mereka melalui SMS. Kesulitan kami adalah untuk mengonline-kan transaksi antar Bank dari setiap Microfinance tersebut. Apakah ada solusi dari forum? Dan bagaimana compliance-nya dgn regulasi (SMS banking blm diatur oleh BI, tp bagaimana dengan peraturan lalu lintas pembayaran?)
June 30th, 2007 at 2:40 pm
mysyam
Jika sistemnya kirim mengirim pulsa untuk sesama operator masih mungkin, tapi kalau sudah beda operator ya tidak bisa. Anyway ide yang bagus juga
June 30th, 2007 at 4:56 pm
Budi Rahardjo
dnial, akan susah dilihat dari sisi hukum jika pembayaran dibebankan kepada miss-call. Nanti akan ada keluhan dari pelanggan. Idenya sih oke …
July 1st, 2007 at 12:13 pm
Masindi
Silakan gunakan jasa ePay Asia Limited.
July 2nd, 2007 at 12:27 am
snydez
hmm.. menjadi biaya tambahan untuk orang yang berhenpon satu dan pascabayar pulak
karena harus beli satu telpon genggam lagi untuk melakukan bisnis ber micropayment ini
July 2nd, 2007 at 11:54 am
Pujiono
miss call? maksudnya missed-call, kali, ya?
July 2nd, 2007 at 1:16 pm
sufehmi
@dnial - idenya ok juga, tapi pak Budi betul bahwa miss-call bisa jadi bahan komplain kalau di charge, he he.
Saya kira tinggal di modifikasi sedikit saja, yaitu menjadi mengkontak nomor telpon premium, yang ketika kita call maka ada mesin penjawab yang membacakan “password”, yang kemudian kita ketikkan di layar vending machine.
Atau bisa juga SMS ke nomor premium, dengan output yang sama.
Idenya pak Budi brilian sekali.. saya kira ini bisa merevolusi ecommerce indonesia hanya dengan sedikit investasi & waktu untuk membangun infrastruktur — encapsulate yang sudah ada (tapi masih belum 100% nyambung), dan membuatnya menjadi seamless.
July 2nd, 2007 at 2:43 pm
rhinoceros
Dalam kondisi khusus (dunia pre-paid phone anak kos-kosan), transaksi ini sudah berlangsung, terbantu oleh fasilitas transfer pulsa yang disediakan oleh mobile provider.
“Saya butuh cash anak kamar sebelah butuh pulsa…. deal!”
Lebih gesit lagi penipu ber-SMS pun sudah akrab dengan transaksi transfer pulsa, iming-iming hadiah dengan memasukkan kode tertentu yang sebenarnya adalah jurus transfer pulsa.
Memang pulsa telpon tidak dapat di-tunai-kan, tapi dapat diperdagangkan.
July 2nd, 2007 at 4:19 pm
Neil
Mas, sebenarnya kalau volume penggunanya sudah besar, saya yakin akan ada mekanisme alami untuk meng”cash”kan kembali nilai voucher tersebut… apalagi sekarang kebanyakan operator memperbolehkan transfer pulsa… jadi salah satu caranya adalah “menjual” nilai voucher tersebut dibawah nilai nominal atau harga pasar voucher tersebut (contoh… nilai nominal 100 ribu di cashkan senilai 95 ribu)… dst
July 3rd, 2007 at 10:40 am
Budi Rahardjo
Sekarang saya nekad mulai … Lihat di
http://budi.insan.co.id/donasi.html
Nyobain yuk?
July 3rd, 2007 at 11:56 am
Petra’s Blog » Nomor HP Baru
[…] ada perlu apa-apa, mau nanya apa-apa, mau kenalan, mau konsultasi (mangnya gw psikolog?), mau donasi (mang bisa?), mau melepas kangen, mau neror (eh, jangan deh, mendingan), mau ngerjain (gak apa-apa, […]
July 7th, 2007 at 12:14 pm
agung
Dulu ada temen saya sempet riset dengan menggunakan vending machine suatu produk minuman ringan yang telah diberi GSM modem dan LCD untuk komunilasi via SMS. Pembelinya tinggal sms no id mesin tsb dan kode minuman yang dia beli. Pulsanya akn berkurang sebesar harga minuman. Waktu udah sempet presentasi di salah satu operator seluler tapi nggak tau kenapa nggak berlanjut.
July 7th, 2007 at 9:34 pm
Budhi
Kayaknya pulsa Om Budi (klo dah akumulatif) bisa di “cash” kan koq. Datengin aja penjual pulsa pinggir jalan yg jual pulsa elektronik. Transfer pulsa ke dia atau Om Budi bs bikin agreement buat jadi supplier pulsa penjual itu. Jd klo ada yg beli pulsa elektronik ke dia, si penjual tinggal SMS no HP & jumlah pulsa yg diminta ke Om Budi, trus transfer deh (ini klo operatornya support transfer pulsa).. Di rekapitulasi tiap bulan. Tentunya itung2an operasional jualannya udah termasuk pulsa SMS si penjual.. Hehehe.. ide aja
July 13th, 2007 at 7:56 pm
Indra
Pak Budi, saya mau jajal donasinya tapi insan.co.id-nya lagi down
Sebenarnya, mumpung PayPal belum sadar bahwa membatasi orang Indonesia merupakan kekeliruan, saya rasa ada baiknya kalau ada yang berani mengambil peluang tersebut. Jadi nggak perlu tanggung-tanggung dengan model pembelian pulsa
August 8th, 2007 at 4:24 pm
Budi Rahardjo
Mas Indra, budi.insan.co.id bisa kok dibrowsing dari sini (saya lagi di luar kota).
Ditunggu eksperimen donasinya. …
August 10th, 2007 at 10:08 am
Indra
Pak Budi,
situsnya sudah bisa saya akses. Tapi donasinya tidak/belum saya lakukan
Ini dia alasannya:
- Masalah micropayment menurut saya, 1000% terpecahkan.
- Masalah lain, sebagian donatur (setidaknya saya) terpaksa harus ninggalin komputer sebentar untuk beli pulsa.
Pak Budi nggak ada keinginan untuk berinisiatif bikin paypal ala Indonesia?
August 10th, 2007 at 2:29 pm
Wibisono Sastrodiwiryo
Saya mau tuh bikin paypal Indonesia dan malah udah pernah bikin konsep tapi gak saya terusin karena kendala non-programming. Untuk bikin aplikasinya no problem dan saya rasa banyak yang bisa tapi untuk hal yang lain seperti misalnya untuk bisa merekrut dana dari masyarakat maka kita harus punya ijin operasional sebagai perusahaan moneter seperti bank.
Paypalkan menerima dana dari publik dan menyimpanya dalam database mereka, ini sama dengan bank. Kalo konsepnya di modifikasi mungkin bisa tapi mengurangi likuiditas ketika anggota ingin menguangkan saldonya.
Contohnya repotnya menguangkan pulsa tadi diatas, kalo kita punya pulsa 100 rb maka gak semudah itu bisa di transfer ke orang lain 100 rb pula. XL hanya mengijinkan transfer pulsa per 3000, itupun kena biaya Rp 99 per transfer.
Saya lagi nunggu yang punya konsep yang inovatif, kalo ada yang punya dan cocok saya mau gabung jadi developernya, kerja sama bagi hasil saya rasa paling cocok.
August 13th, 2007 at 3:47 am
Budi Rahardjo
Kalau keinginan buat PayPal sih ada. Masalahnya adalah waktu saja. Sekarang, dengan berbagai aktivitas dan inisiatif saya saja sudah kerepotan. Apalagi kalau buat inisiatif baru… Wah, bisa kedodoran semua. (Nanti dikira mau memborong semua kerjaan. he he he.)
Dulu, Eka Ginting (Bali Online / indo.com) pernah mencoba berinisiatif. Rasanya sekarang dia punya micropayment akan tetapi untuk lingkungan kelompoknya dia saja (friends and families).
August 13th, 2007 at 8:09 am
Indra
@Wibisono,
Betul. Kendala non programming yang bakalan bikin repot. Bagaimana kalau ada yang bikin konsepnya trus ditawarkan kepada yang ‘berkuasa’ (atas hal-hal yang bersifat non teknis, finansial, birokrasi dsb)?
Biar pak Budi tidak perlu memborong semuanya? he he..
Kebetulan saya hanya bisa provokasi
Bener lho. Meskipun misal Paypal buka akses penuh membuat sebagian besar dari kita senang, ada sedikit rasa ngga rela karena bakal banyak dana ketarik ke luar (negeri).
August 14th, 2007 at 2:24 am
Dani
Pak Budi,
Kayanya kita ngga perlu repot-repot bikin semacam Paypal di Indonesia atau micropayment lainnya. Saya baru nemu artikel ini semalam.
http://bisnisweb.blogspot.com/2007/09/ramadhan-update-paypal-untuk-orang.html
September 30th, 2007 at 11:46 am
Durjana
Konsep system pembayaran model gitu dah ada yg punya hak paten nya om budi. (Kayak sms asuransi jg dah ada yg punya patenya tuh) Bisa jadi itu masalahnya operator g jalanin. Kalo mau jalanin konsep itu selain faktor non teknis+ regulasi, ya operator kudu bayar licensi paten konsep itu. Kalo om budi jeli, ada koran dibeberapa propinsi yang kerjasama ama mpu pemilik paten itu untuk kepentingan pemasangan iklan dikoran bersangkutan. Kabar terakhir, hak paten nya mau dilepas n sedang dtawarkan ke beberapa pihak om. Wah berapa ratus M ya harga hak patennya kalo emang bikin untung provider?? :-S
Sy pernah baca ribut-ribut garuda ama lion air gara-gara hak paten e-ticket tuh. Kalo g salah lion kena denda brp M gt deh tu.
Ngomong-ngomong soal provider, licensi mrk kan cuma buat dibidang telekomunikasi om, emang bukan buat payment gt. Tp g tau juga nding kalo paten td dibeli ama provider, mungkin bisa jalanin konsep tsb + didukung ama regulasi pemerintah n bisa melarang provider laenya jalanin konsep sejenis selama 10thn kcuali pihak laen beli licensi ama pemilik patenya tuh:-)
April 3rd, 2008 at 2:30 am
PlasmaNet
p’ Budi Rahardjo, yth.
saya kok kepikiran, gimana kalau konsep yang dikemukakan di atas kita uji coba di lapangan?
saat inikan banyak bermunculan jasa operator pulsa elektrik,via handphone bahkan kita juga bisa kirim deposit antar sesama member.
Langkah pertama kita bisa memanfaatkan perusahaan yang melayani pulsa elektrik saja dulu, atau dengan membuat perusahaan sendiri.
melalui konsep transpor deposit ini dapat dikembangkan dan diperluas untuk lalu-lintas pengiriman dan penerimaan uang,,,,tapi memang penerimaannya dalam bentuk deposit yg dapat ditukarkan kembali dalam uang (rupiah).
saat ini saya sengaja uji coba ikut member di salah satu penjualan pulsa elektrik. tetapi yang lebih banyak saya lakukan menerapkan pengiriman deposit ke member saya. Contoh saya stock deposit senilai 1 juta, lalu deposit itu saya split ke member sesuai kebutuhan) member dpt melakukan transksi penjualan voucher ke consumen.
Yang menarik, saya punya keluarga di kampung, lokasinya memang jauh dari pusat perkotaan (keramaian). Saya mendaftarkan nomor hp-nya, lalu saya kirim deposit kepadanya. karena jarak bank seperti BRI/mandiri sangat jauh, jadi kebutuhan deposit saya penuhi dari Jakarta setelah terkumpul dia juga melakukan kembali deposit ke bank setelah dana tercukupi dengan memperhitungkan biaya transport, dll.
yang lucunya lagi, waktu itu adalah salah satu keluarga yang mendesak butuh dana cash untuk biaya berobat..untunglah dana deposit dari Jakarta masih belum ditransfer jadi dpt dimanfaatkannya.
Hal lain, ada seorang teman saat ini kuliah di Jakarta. kebetulan hp dia dan milik adiknya di kampung sudah diregristasi sebagai member jualan pulsa. Ketika kakaknya yang kuliah di yogya butuh uang jajan….adiknya mengirim deposit kepada kakaknya, dan kebetulan juga sebelah tempat costnya ada counter yang memakai produk sama, jadi depositnya dpt ditukar dgn uang tunai.
mungkin kalau diskusi kalau ada waktu dpt kita bicarakan tentang konsep binisnya….tapi ide yang menarik dpt disosialisasikan untuk pemdakab dengan tujuan utamanya adalah bagaimana mempercepat proses pemasukan uang dari kota ke daerah (pedesaan). Alasan saya di daerah tidak semua bank dpt terjangkau masyarakat. Alternatif sebagai pusat ada di kantor desa.
Kantor desa nantinya meregistrasi nomor-nomor hp masyarakatnya yang hendak mencari kerja di luar daerah, termasuk TKI/TKW.
Jika proses ini sudah membumi….kemungkinan proses voucher sebagai transaksi dpt terwujud dgn cepat.
Untuk itu, perlu sosialisasi ke pemdakab, sasaran uji coba: pemdakab sragen atau pemdakab lainnya.
wassalam
085695498993
April 8th, 2008 at 4:35 pm
Gede B. Mahartapa
Dear Pak Budi, mudah2an masih ingat saya. Dulu saya sering merepotkan pak budi dengan pendaftaran domain waktu kerja dgn pak Sanjaya di indonet.
Coba tengok situs saya. http://www.gudangvoucher.com.
Saya launch sejak th 2004, paling tidak sekarang jadi andalan untuk pembayaran game online, akses internet, VoIP, dan beberapa e-commerce.
Paling tidak 6.000 transaksi per bulan bisa saya dapat.
Menurut saya micropayment pakai pulsa masih belum efektif untuk indonesia.
Alasannya? Karena voucher seluler di indonesia masih high cost. Rantai distribusinya masih terlalu panjang, sehingga margin yang diperlukan oleh operator terlalu tinggi.
Saya juga bergerak di bidang content provider. Teman2 content provider juga menerapkan pembayaran content via SMS. Tapi revenue sharing yang diminta operator paling kecil 40% jadi sering gak masuk di hitungan bisnis.
June 25th, 2008 at 3:12 am