Budi Rahardjo’s Thoughts
Sebuah survey di lingkungan Bandung High Tech Valley (BHTV) menunjukkan bahwa modal merupakan masalah kedua yang dihadapi oleh perusahaan yang terkait dengan teknologi informasi. Masalah pertama adalah masalah pemasaran dan yang ketiga adalah sumber daya manusia (SDM).
Pendanaan usaha teknologi informasi di luar negeri umumnya menggunakan modal ventura (venture capital, VC). Sementara itu di Indonesia, VC berlaku mirip seperti bank. Mereka umumnya belum mau mengambil risiko yang besar sebagaimana yang dilakukan VC di luar negeri. Jadi apa yang harus dilakukan oleh pengusaha teknologi informasi di Indonesia?
Ketika mereka mencoba menghubungi bank untuk mendapatkan pendanaan, ternyata ada banyak masalah. Pihak bank belum banyak mengetahui industri ini. Biasanya pendanaan dari bank membutuhkan agunan. Apa yang bisa dijadikan agunan dalam industri teknologi informasi? Biasanya industri ini berbasis ide, atau otak. Paling-paling yang bisa dijadikan agunan adalah komputer. Berapa sih harga komputer?
Dengan kata lain, usaha teknologi informasi belum bankable. Wah. Bagaimana pendapat dan pengalaman Anda? Apa yang bankable dari usaha teknologi informasi? Kalau tidak ada, apa kita pindah industri saja? Jual beli kambing aja?
Artikel dituliskan oleh Budi Rahardjo pada Thursday, July 12th, 2007 pukul 9:04 am. Diarsipkan dalam kategori Teknologi. Anda dapat mengikuti diskusi melalui layanan sindikasi komentar.
Anda dapat mengikut diskusi dengan meninggalkan komentar, atau lacak balik dari situs Anda.
Ada 20 komentar untuk artikel ini. Ikuti diskusi
paydjo
PKS (Perjanjian Kerja Sama) dengan client katanya bisa jadi agunan ohm
July 12th, 2007 at 1:46 pm
Budi Rahardjo
@paydjo, kalau belum ada PKS gimana (misalnya baru mulai dan belum ada client)?
July 13th, 2007 at 8:11 am
Modal Untuk Usaha IT « Budi Rahardjo
[…] Untuk Usaha IT Jump to Comments Di blog Asia Blogging Network saya, ada tulisan tentang kesulitan untuk mencari pendanaan (modal) usaha yang berbasis IT. Aduh … Padahal katanya usaha teknologi informasi (information technology, IT) itu sangat […]
July 13th, 2007 at 8:42 am
fisto
iya ya…padahal dari beberapa cerita yg saya baca ttg perusahaan2 dari silicon valley, mereka selalu dibantu oleh VC untuk bisa berkembang…bisa gak ya dengan cara membujuk pengusaha2 besar untuk membentuk sebuah konsorsium atau apalah namanya, yg memang menyediakan VC2 untuk pengusaha2 IT di negeri ini…pokoknya diusahakan semaksimal mungkin deh jangan sampe jualan kambing…
July 13th, 2007 at 11:01 am
sufehmi
Sebetulnya justru sebaiknya menghindari bank untuk usaha kecil/menengah. Juga usaha yang profit marginnya kecil. Bukan apa-apa, nanti jadinya profit kita habis cuma untuk membayar bunga (bukan cicilan lho) bank.
Solusinya ? Dengan internet, barrier to entry untuk memulai bisnis yang sukses sekarang sudah sangat rendah. Cuma perlu ide yang bagus, effort yang maksimal & modal yang tidak terlalu besar.
Alhamdulillah sih sekarang dotcom scene di indonesia sudah mulai marak lagi.
Kalau yang ingin pure teknologi dengan investasi besar (contoh: pabrik prosesor, dll), ya jelas ini harus melibatkan bank, karena duitnya juga luar biasa besar. Perlu agunan? Ya jelas, karena itu tidak semua orang bisa membuat pabrik prosesor
July 13th, 2007 at 11:53 am
sueng
Pengalaman saya yang bankable memang proyek-nya bukan kumpeninya. Tidak semua proyek bankable , kalau proyek dari telkom itu baru banyak yang nawarin kridit.
Tapi biarpun sudah ada PKS biarpun dari telkom tetep saja harus ada agunan. Tapi memang agunan ini bisa lebih kecil dari yang seharusnya asal di lengkapi dengan asuransi yang artinya mesti ada biaya premi.
Saya baru punya pengalaman kontak dengan dua bank, satu bank devisa biasa satu lagi bank syariah, sepertinya bank syariah lebih nyaman. Nyaman dalam banyak hal muali dari pengajuan sampai masalah bagi hasil. Bagi hasil memang lebih cocok untuk UKM , dan kenyataannya masih bersaing dibanding bunga bank biasa.
Tapi kredit hanya menyelesaikan masalah pembiayaan untuk satu proyek, untuk day-to-day dan pengembangan produk tetap susah, solusinya hanya cari investor kayaknya.
July 13th, 2007 at 12:43 pm
rendy
setuju
memang masalah utama yang saya isi di quesioner saya merupakan masalah pemasaran, yang kedua adalah masalah SDM yang menjalankan usaha tersebut, baru yang ketiga pencarian modal
July 13th, 2007 at 12:56 pm
Jukri
Perlu summon Guy Kawasaki?
Itu peran pentingnya Konsultan Mitra Bank yang IT savvy dan bank friendly [haiyah..]
Kalo mau mengandalkan pertumbuhan organik pastinya perlu kesabaran yang lama, itupun kalo nggak layu di jalan duluan. Kalo temennya banyak, networking lancar, posisi tawar lebih baik, ekosistem bisnis mendukung, setoran lancar.. [ini yang paling pwenting] Insya’Allah semua lancar lah
July 13th, 2007 at 1:26 pm
Setiabudi
Kalau pengalaman saya selama ini sih biasanya harus pintar-pintar saat menyusun RAB (rencana anggaran biaya).
Maksudnya pada saat penyampaikan proposal biaya kepada calon klien sebaiknya sudah kita perhitungkan antara operational real costs, safety costs dan profit margin.
Biasanya saya waktu meminta Down Payment nilainya harus minimalnya sama dengan operational real cost. Sehingga aman untuk kerja.
Tapi kalau untuk proyek-proyek yang nilainya besar sih kebetulan ada funder yang selalu siap membantu dana. Tinggal diajukan cash-flow yang transparan dan bagi hasil yang menarik saja.
July 13th, 2007 at 4:17 pm
arifkurniawan
Pengalaman saya:
Waktu mengurus tender proyek penyediaan perangkat lunak terpadu bagi beberapa pom bensin di beberapa propinsi di Indonesia, kami kelimpungan. Sebab kekurangan sumber daya finansial.
(Jangan tanya saya berurusan dengan siapa, sebab kalau bicara bensin, saya yakin anda juga tahu para pemainnya. hehe)
Waktu itu, kami langsung lari ke Bank pembangunan daerah setempat. Sayangnya, surat tender (yang keluar sebelum kontrak/MoU ada) ternyata tidak dapat dijadikan agunan. Sebab ternyata Bank tersebut hanya mau, apabila skala pembangunannya hanya meliputi daerah lokal setempat saja. Intinya, Bank tidak mau ambil resiko.
Yang mengagetkan, ketika surat ikut-serta-tender kami dipublikasi dalam media yang lebih luas. Ternyata, banyak VC asing (non-RI) yang berminat menanamkan modalnya.
Sungguh dilematis!
(waktu itu, saya tidak sampai kepikiran mau jual beli kambing. Tapi, malahan mau ganti usaha. Buka franchise bakso yang tenar poligami. Lebih bankable. hehe)
July 13th, 2007 at 7:19 pm
Budhi
Bangsa kita kayaknya masih awam dengan bisnis yang ga keliatan fisik barangnya. Bisnis IT padahal sangat menjanjikan, tapi kayaknya malah lebih sulit dimulai dibanding jualan roti
. Kapan ya ada Larry Page & Sergey Brin Indonesia?
July 13th, 2007 at 7:26 pm
Wibisono Sastrodiwiryo
Kenapa pemodal ventura di Indonesia belum berani ambil resiko karena mungkin belum ada contoh kasus perusahaan IT yang sukses seperti di Amrik.
Jadi mesti ada kisah sukses dulu supaya pemodal tahu bahwa model bisnis IT itu bisa mendatangkan keuntungan juga.
Kalo mereka sudah yakin bahwa model bisnis IT bisa sukses dan besar maka sikap mereka bisa seperti pemodal ventura di Silicon Valey sana.
Waktu pendiri Google terima dana 25 jt dollar sebagai modal awal, para pemodalnya belum tahu bagaimana Google Guy akan menghasilkan uang. Yang mereka tahu cuma Google Guy ini pencipta mesin pencari canggih tapi toh tetep mereka mau invest karena sudah ada contoh sukses seperti Yahoo, Ebay dll
Bisnis IT di Indonesia adanya hanya kisah bangkrut seperti MW*b (CMIIW), bad publicity for Indonesia.
lagi menunggu kisah sukses supaya kita kena imbas positif
July 14th, 2007 at 1:06 am
viga
kayaknya mereka (pemodal) malah lebih tertarik take over perusahaan IT yang udah jadi.
July 14th, 2007 at 6:02 pm
Setiabudi
Sebenarnya sih contoh untuk kesuksesan kerjasama antara modal ventura dan perusahaan TI sudah ada di Bandung.
PT. Sarana Jabar Ventura (SJV) pernah menginvestasikan dana untuk PT. Optima Infocitra Universal.
Perusahaan pimpinan Bapak Didi Apriadi tersebut kemudian berkembang pesat dengan dukungan dana dan manajerial dari VC-nya itu.
Padahal waktu itu software jagoannya Optima baru aplikasi pelayanan satu atap, tapi bisa jadi profit center usaha mereka.
Malah sekarang selain SJV sudah ada investor lainnya seperti Aiti Investment (Korea Selatan), Dinamic Venture Capital (Hong Kong) dan ICM (Korea Selatan).
Jadi sebenarnya sih para VC sudah siap mengucurkan dana tapi sering masalahnya ada di perusahaan TI-nya sendiri.
Dari mulai konsep, visi dan misi (apalagi strategi ) bisnis yang tidak jelas sampai manajemen yang berantakan.
July 16th, 2007 at 1:24 pm
Wibisono Sastrodiwiryo
Berita yang bagus sekali.
Ini akan sangat menyemangati pelaku bisnis IT kita.
Biasanya sih memang begitu tipikal perushaan IT yang masih baru, jangan harap manajemen rapi, biasanya modal utama para IT startup itu adalah produk yang invofatif.
Saya juga mau tuh tapi mesti berbenah dulu (banyak deh kayaknya). Biasanya secara alamiah pemodal akan muncul bila kita sudah siap.
July 16th, 2007 at 5:02 pm
timotius
bagaimana caranya dan apa saja syaratnya untuk bisa mendapatkan modal ventura. terima kasih
08176337888
August 12th, 2007 at 11:07 pm
Budi Rahardjo
Timotius, biasanya VC akan meminta ketemu dengan Anda untuk mendapatkan (1) ide apa yang Anda punya; (2) kira-kira bisnisnya apa (business model, business plan); (3) siapa saja orang yang terlibat dalam timnya (ini penting karena biasanya dia baru percaya setelah kenal dengan orangnya ini).
August 13th, 2007 at 8:14 am
Bookeu
Unit Usaha kecil saya di bidang telekomunikasi sebagai usaha kecil yang inofatif pendukung dan suport PT. TELKOM indonesia untuk wilayah DIVRE III JABAR..pendapatan kecil dan dukungan dana 1 kali dalam masa operasional unit usaha hanya mampu bertahan selama 2 th…kini sulit melanjutkannya padahal income yang didapat cukup baik…hanya sulit mencari pemodal atau infestor bagi usaha kecil kami.
August 20th, 2007 at 1:21 am
Suhendri
Apabila bukan untuk urusan teknologi informasi tetapi pendidikan, apakah ada VC yang bisa bantu ?
Kebetulan saya agak idealis tentang pendidikan ini, dan sekarang sudah mulai mencicil untuk membangun gedung 3 lokal, ALhamdulillah sudah sampai pembuatan tiang untuk 3 lokal dan pembuatan dak beton untuk menutup ketiga lokal tersebut. Dindingnya masih belum ada, karena modalnya sudah habis..:)
Mau pinjam ke Bank mentok dengan persyaratan yang cukup bikin pening kepala dan suku bunga yang mahal..
Rencana saya akan digunakan untuk pendidikan yang nyaris gratis atau biaya paling minimum lah… Dan biaya untuk operasional akan dilakukan secara subsidi silang dengan usaha lain / kursus di lokasi tersebut.
Apakah cita-cita ini terlalu GILA ?
Apabila Pak Budi tidak keberatan, saya mau menjelaskan rencana ini melalui email.
November 7th, 2007 at 7:30 pm
Ade
bagaimana caranya dan apa saja syaratnya untuk bisa mendapatkan modal ventura, mohon rekomendasi VC. Terima kasih
June 15th, 2008 at 6:49 pm