Budi Rahardjo’s Thoughts
Tanggal 6 dan 7 Agustus 2007 yang lalu, di ITB ada Konferensi Rural ICT. Salah satu tema yang diangkat adalah Digital Culture. Acaranya cukup seru. Ada peluncuran TV kampus, yang bisa diartikan sebagai Digital Channel. Yang agak sedikit konvensional adalah Wayang Golek. Yang tidak sempat saya tonton, tapi judulnya bagus adalah “Workshop Portable Media Lab”.
Apakah adanya teknologi baru, yang umumnya berbasis digital, akan mengubah pola hidup kita? Apakah Digital Culture atau e-culture (eh, apa bagusnya malah disebut “kultur-e”? he he he) ini akan membuat hidup kita menjadi lebih baik? Waktu yang akan menentukan.
Tentu saja kita tidak usah berdiam diri, berserah diri kepada waktu. Ada banyak inovasi yang bisa kita lakukan. Misalnya, saya punya ide membuat sebuah acara dialog (interaksi) antara saya dengan karakter yang ada di komputer secara real time. Nah, untuk ini perlu dikembangkan softwarenya. Belum lagi nanti ada sendratari digital. Bentuknya bagaimana? Itulah yang perlu kita rumuskan bersama-sama. Jangan sampai keduluan negara lain.
Ayo …
Artikel dituliskan oleh Budi Rahardjo pada Tuesday, August 14th, 2007 pukul 9:15 am. Diarsipkan dalam kategori Seni, Teknologi. Anda dapat mengikuti diskusi melalui layanan sindikasi komentar.
Anda dapat mengikut diskusi dengan meninggalkan komentar, atau lacak balik dari situs Anda.
Ada 2 komentar untuk artikel ini. Ikuti diskusi
yudhy setiawan
sebenernya bagaimana si konsep panggung dari acara digital culture itu???
January 17th, 2008 at 6:45 pm
andri
sebetulnya definisi digital culture itu apa? Mengapa istilah ini muncul?
April 6th, 2008 at 6:53 pm