Budi Rahardjo’s Thoughts
2 komentar — Budi Rahardjo on August 14th, 2007
Tanggal 6 dan 7 Agustus 2007 yang lalu, di ITB ada Konferensi Rural ICT. Salah satu tema yang diangkat adalah Digital Culture. Acaranya cukup seru. Ada peluncuran TV kampus, yang bisa diartikan sebagai Digital Channel. Yang agak sedikit konvensional adalah Wayang Golek. Yang tidak sempat saya tonton, tapi judulnya bagus adalah “Workshop Portable Media Lab”.
Apakah adanya teknologi baru, yang umumnya berbasis digital, akan mengubah pola hidup kita? Apakah Digital Culture atau e-culture (eh, apa bagusnya malah disebut “kultur-e”? he he he) ini akan membuat hidup kita menjadi lebih baik? Waktu yang akan menentukan.
Tentu saja kita tidak usah berdiam diri, berserah diri kepada waktu. Ada banyak inovasi yang bisa kita lakukan. Misalnya, saya punya ide membuat sebuah acara dialog (interaksi) antara saya dengan karakter yang ada di komputer secara real time. Nah, untuk ini perlu dikembangkan softwarenya. Belum lagi nanti ada sendratari digital. Bentuknya bagaimana? Itulah yang perlu kita rumuskan bersama-sama. Jangan sampai keduluan negara lain.
Ayo …
Topik: Art, Technology
5 komentar — Budi Rahardjo on July 26th, 2007
I am reading two books. They are all on software cost estimation. Apparently, it is difficult to estimate the cost of a software or application if you have to build one. It is still considered an art. Whoa! There’s the word “art” again in the context of technology.
These books poke on issues realted to software cost estimation. There’s science behind it. That’s the theory, but if you’re looking for magic mathematical formulas, you’re going to be frustrated. You won’t find one. There are efforts to create some sort of formulas, such as the cocomo model, but they still have some problems. I don’t know if they can be implemented in our (Indonesian) environment. In any case, we’re still looking for some sort of (mathematical) foundation to make the estimation more accurate.
Oh, yeah, the books are:
They are good books. Recommended.
Topik: Teknologi
5 komentar — Budi Rahardjo on July 15th, 2007
Teknologi seharusnya bisa mensejahterakan kita, tetapi teknologi juga bisa membuat kita pusing tujuh keliling.
Teknologi komputer dan telekomunikasi memungkinkan berbagai hal yang dahulu tidak dimungkinkan. Tulisan yang dahulu harus ditulis dengan tangan bisa dicetak dengan mesin cetak kemudian dengan komputer. Tulisan dalam bentuk buku tadinya memenuhi ruang perpustakaan, sekarang bisa masuk dalam saku dalam bentuk flash disk.
Lagu yang tadinya berbentuk analog dan harus dijual dalam bentuk piringan hitam dan kaset, lagi-lagi, bisa masuk dalam saku. Televisi yang tadinya hanya bisa dinikmati di ruang keluarga, sekarang sudah muncul dalam genggaman tangan. Demikian pula dengan radio.
Kesemuanya ini (seharusnya) membuat kualitas hidup kita meningkat. Namun ternyata kemudahan ini membingungkan pembuat kebijakan (regulator).
Di Indonesia saat ini ada dua undang-undang dan satu RUU yang saling tumpang tindih; (1) UU Telekomunikasi, (2) UU Penyiaran, dan (3) RUU Informasi dan Transaksi Elektronik. Sebagai contoh, jika sebuah stasiun televisi menyiarkan programnya melalui handphone (via 3G, 3,5G, HSDPA, dan seterusnya) apakah diperlukan ijin (penyiaran)? Jika saya membuat sebuah radio menggunakan jaringan internet, apakah perlu ijin penyiaran? Bagaimana dengan podcasting? Dan masih banyak lagi. Mumet… Memang teknologi ini bisa “liar” juga ya.
Katanya ada trend untuk menyatukan undang-undang di atas dengan nama harmonisasi. Hmm…
Saya hanya titip agar jangan sampai pemanfaatan teknologi dibendung dengan UU dan bahkan di-kriminalisasi-kan (seperti misalnya kasus VoIP). Itu saja.
Topik: Teknologi
20 komentar — Budi Rahardjo on July 12th, 2007
Sebuah survey di lingkungan Bandung High Tech Valley (BHTV) menunjukkan bahwa modal merupakan masalah kedua yang dihadapi oleh perusahaan yang terkait dengan teknologi informasi. Masalah pertama adalah masalah pemasaran dan yang ketiga adalah sumber daya manusia (SDM).
Pendanaan usaha teknologi informasi di luar negeri umumnya menggunakan modal ventura (venture capital, VC). Sementara itu di Indonesia, VC berlaku mirip seperti bank. Mereka umumnya belum mau mengambil risiko yang besar sebagaimana yang dilakukan VC di luar negeri. Jadi apa yang harus dilakukan oleh pengusaha teknologi informasi di Indonesia?
Ketika mereka mencoba menghubungi bank untuk mendapatkan pendanaan, ternyata ada banyak masalah. Pihak bank belum banyak mengetahui industri ini. Biasanya pendanaan dari bank membutuhkan agunan. Apa yang bisa dijadikan agunan dalam industri teknologi informasi? Biasanya industri ini berbasis ide, atau otak. Paling-paling yang bisa dijadikan agunan adalah komputer. Berapa sih harga komputer?
Dengan kata lain, usaha teknologi informasi belum bankable. Wah. Bagaimana pendapat dan pengalaman Anda? Apa yang bankable dari usaha teknologi informasi? Kalau tidak ada, apa kita pindah industri saja? Jual beli kambing aja?
Topik: Teknologi
3 komentar — Budi Rahardjo on July 11th, 2007
Harian Bisnis Indonesia menampilkan berita tentang GURU, aplikasi virtual reality (VR) yang dikembangkan oleh beberapa mahasiswa Teknik Informatika ITB (Victor, Andri, Audi Primadhanty, Pascal). Aplikasi ini menggunakan kombinasi sarung tangan elektronik (untuk mendeteksi gerakan tangan dan jari) dan kacamata digital (untuk melihat peragaan 3 dimensi).
Saya cukup senang juga mendengar berita ini karena tadinya saya pikir dunia virtual reality sudah mati suri. Ternyata masih ada tanda-tanda kehidupan di sana. Entah kalau di dunia sana (maksudnya di negara lain, bukan di dunia virtual - ha ha ha).
Aplikasi yang dibidik oleh GURU adalah aplikasi pendidikan, sesuai dengan namanya. Pengguna dapat belajar mengenai apa saja dan dapat berinteraksi dalam bentuk tiga dimensi. Tapi, kalau melihat kondisi Indonesia, kemungkinan aplikasi Games akan lebih cepat dapat diterima daripada aplikasi pendidikan ya? Hanya saja, main DOOM saja sudah bikin pusing, apalagi kalau pakai aplikasi ini ya? Betul-betul bisa terasa di dunia sana (kali ini di dunia virtual, maksudnya).
9 komentar — Budi Rahardjo on July 10th, 2007
Ingin tahu contoh gabungan (produk) teknologi dan seni? Jawabannya adalah iPod buatan Apple itu.
Sebelum membeli iPod nano, saya sudah memiliki dua buah pemutar MP3 (MP3 player). Tadinya saya berpikir, apa sih hebatnya iPod sehingga orang membeli produk ini. Dia kan bukan produk MP3 yang pertama. Biasanya pasar kan didominasi oleh yang pertama keluar.
Ternyata setelah membeli iPod nano itu saya baru bisa merasakan perbedaannya. Setelah merasakan iPod ini, lantas saya tidak bisa lepas dari dia. Desain dari iPod ini memang luar biasa. Sederhana. Di dalam kesederhanaannya itu terdapat teknologi yang luar biasa.
Lihat saja bagaimana Apple membuat user interface yang menarik dengan keterbatasan ruang untuk meletakkan tombol pengatur operasi iPod itu. Dengan hanya memutar dial yang elegan, maka saya bisa mengakses menu yang tersusun dengan rapi. Pada pemutar MP3 lainnya, hal ini dikerjakan sambil lalu saja. Para pembuat pemutar MP3 lainnya ini tidak memiliki rasa seni. (They don’t have good taste.)
Tentu saja penampilan yang cantik tanpa didukung dengan penerapan teknologi yang benar tidak ada artinya. Benda kita hanya akan menjadi pajangan saja atau malah jadi ganjel pintu.
Harus diakui Apple memang sangat menguasai pembuatan software yang elegan. Steve Jobs sendiri mengatakan bahwa Apple itu sebetulnya adalah perusahaan software. iPod itu sebenarnya hanya software yang memiliki kotak yang indah.
iPod dan iTunes menyelamatkan Apple dari kebangkrutan. Apple yang sudah akan karam ternyata muncul ke permukaan dan bahkan merajai dunia musik digital. Oh ya, memang Steve Jobs dan Apple dikenal dengan produk-produknya yang elegan - berseni. Bayangkan kalau produk mereka hanya berbentuk kotak dengan LCD seadanya saja, sudah pasti Apple karam betulan.
1 komentar — Budi Rahardjo on July 8th, 2007
Ketika pertama kali diminta topik untuk menulis di asiablogging ini, saya langsung menjawab “seni dan teknologi”. Tidak ada keraguan. Sebenarnya dua kata itulah yang ada di kepala saya. Pada awalnya saya merasa aneh. Mungkin Anda juga akan bertanya, apa hubungannya seni dan teknologi. Saya hanya bermodalkan still yakin saja.
Baru-baru ini saya menemukan situs web yang bernama TED. Di dalamnya ternyata ada banyak bahasan yang terkait dengan Technology, Entertainment, Design. Lengkapnya adalah Technology, Entertainment, Design, Business, Science, Culture, Arts, dan Global Issues. Ha. Ternyata saya tidak sendirian.
Oh ya, sebelumnya saya sudah mengutarakan di sebuah ruang publik bahwa saya akan membuat tempat untuk meneliti dan mengembangkan teknologi entertainment. Nah lho. Tertarik untuk bergabung?
7 komentar — Budi Rahardjo on July 3rd, 2007
Baiklah, saya mulai sedikit demi sedikit menceritakan apa yang saya maksud dengan seni dalam software. Perhatikan source code berikut ini. (Aduh ternyata sulit memformat source code dalam wordpress. Apalagi kode yang dibuat secara ekstrim seperti ini. Saya terpaksa menggunakan gambar / image untuk memuat kode berikut. Source codenya dapat diperoleh di sini.)
Menarik bukan? Kode diketik sehingga menyerupai gambar hati.
Inilah yang saya maksudkan dengan seni dalam kode software. Oke, ini bukan puisi, tapi cukup nyeni juga. Di kesempatan lain akan saya tampilkan kode yang memang berisi puisi.
Oh ya, kode di atas bisa Anda rakit (compile) dan akan menghasilkan keluaran yang juga sangat menarik. Ada yang sudah mencobanya? Apa coba keluarannya?
Saya tidak tahu siapa pengarang kode di atas. Ada yang tahu? Saya berkeyakinan bahwa kode ini dibuat oleh orang Indonesia, atau orang yang mengetahui Indonesia. Mengapa saya berpendapat demikian? Anda harus lihat output dari program itu untuk menjawab pertanyaan ini.
Topik: Teknologi
30 komentar — Budi Rahardjo on June 30th, 2007
Saya ingin cerita tentang pemanfaatan teknologi yang lagi-lagi nyleneh di Indonesia, yaitu tentang voucher pulsa seluler sebagai alat bayar.
Salah satu kesulitan transaksi elektronik (e-commerce) di Indonesia adalah belum adanya sistem pembayaran elektronik yang bisa digunakan untuk pembayaran dalam jumlah kecil, micropayment. Di luar negeri ada PayPal. Sayangnya mereka belum dapat digunakan di Indonesia secara penuh.
Sebagai contoh, misalnya saya ingin menjual sebuah artikel dengan harga Rp 1000,-. Bagaimana caranya? Pembayaran tidak dapat dilakukan dengan kartu kredit, bahkan dengan mesin ATM-pun tidak bisa dilakukan. Masalahnya adalah nilai nominal yang harus dibayarkan terlalu kecil. Biaya transaksinya malah lebih mahal.
Selidik punya selidik, ternyata ada acara pembayaran yang agak aneh yaitu dengan menggunakan voucer seluler. Misalnya saya ingin menjual sesuatu yang harganya murah, maka Anda bisa membeli voucher seluler dan mengisikannya untuk saya atau memberikan kodenya kepada saya sehingga bisa saya isikan ke handphone saya. Saya melihat cara ini dilakukan di dunia games, dimana anak-anak membuat karakter yang bagus kemudian menukarkannya dengan voucher. (Anak-anak kan belum punya account bank, apalagi kartu kredit.)
Nilai voucher tadinya memang masih terlalu besar, Rp 50 ribu. Sekarang sudah turun. Bahkan kemarin saya melihat iklan voucher yang nilainya Rp 1000,-. Hah? Ternyata dunia seluler memiliki infrastruktur untuk micropayment. (Catatan: ini “ancaman” buat bank. Sayang mereka tidak menyadarinya.)
Saya jadi kepikiran. Bagaimana kalau saya ambil sebuah nomor handphone prepaid, kemudian menerima sumbangan jika Anda menyukai tulisan-tulisan di blog-blog saya (baik yang ini maupun yang di tempat lain). Kira-kira ada yang mau mengirimkan voucher pulsa ke saya nggak ya? Resikonya kan kecil. Saya akan coba ah …
Tentu saja mekanisme ini masih memiliki kelemahan karena kalau nilai pulsa saya sangat besar, dia tidak (belum?) bisa diuangkan kembali. Kalau bisa diuangkan … wah, jadilah dia micropayment di Indonesia. Sekedar ide saja.
Topik: Teknologi
11 komentar — Budi Rahardjo on June 27th, 2007
Ada orang yang mengatakan bahwa teknologi itu netral. Namun ternyata penerimaan pemanfaat teknologi, dalam bentuk produk, itu masih mengandung pertanyaan. Ada produk yang mudah diterima di sebuah komunitas, tetapi kalah di komunitas lain.
Kita ambil contoh. Friendster sangat digemari oleh orang Indonesia, sementara itu orang Amerika lebih menggemari myspace dan orang Brazil lebih menggemari Orkut. Mengapa demikian? Kajian teknis semata ternyata belum berhasil menghasilkan jawaban yang memuaskan. Ada aspek kultur yang kental di sini. (Hayo, antropolog? budayawan? angkat bicara dengan analisa Anda!)
Ada juga teknologi yang ternyata pemanfaatannya berbeda dengan yang direncanakan. Wartel merupakan salah satu pemanfatan teknologi yang khas Indonesia. Ada lagi yang menarik, yaitu ojek! Mungkin tidak pernah terbayang oleh pabrik motor di luar negeri bahwa motor akan dijakan alat transportasi publik. Ini hanya ada di Indonesia. Lucu memang.
Nah, saat ini ada beberapa kawan yang sedang mencoba membujuk perusahaan asing - khususnya perusaan yang bergerak di bidang IT - untuk melakukan penelitian teknologi yang khas Indonesia. Penelitian ini tidak mungkin dilakukan di luar negeri karena di sana tidak dikenal yang namanya wartel atau ojek. Penelitiannya harus di Indonesia. Mudah-mudahan mereka sadar akan hal ini dan membuka divisi penelitiannya di Indonesia. Sementara itu kita mulai cari teknologi yang khas Indonesia yuk … Kita cari “ojek”nya IT.
Recent Comments