Art and Tech

Budi Rahardjo’s Thoughts

Topik: Technology, Teknologi

Jumping Into Energy Bandwagon

DiskusiBudi Rahardjo on September 26th, 2007

I read this yesterday, “How Tech Titans Became Energy Entrepreneurs.” Quite an interesting article. The timing is so acurate. It is interesting to see that the there is a trend to start energy company in Silicon Valley.

Here, in Indonesia, there is a heating debate about whether we should have a Nuclear Power Plant or not. We are in the brink of energy crissis. Our current power plants cannot deliver enough electrical energy to the people. It should be noted that average electrical house hold consumption in Indonesia is very low compared to Americans, for example. And yet, our electric company cannot deliver. Thus, Nuclear Power Plant idea seems viable.

Now, the question is … Is there an opportunity to create a new energy company, just like in Silicon Valley? I am not too sure. Things that are related to public needs - I think electricity is one of them - used to be owned by state only. There is no room for private companies. However, there was some attempts to privatise many state-owned companies. This should (have?) change.

This energy problem is not limitted to Indonesia. I would assume that this is a bigger problem in India and China, where tech companies are booming.

A few years ago, I was invited as part of IBM Deep Dive session in New Delhi. One of the topics we discussed was exactly this, energy! (I think it was reported in their GIO book. I lost my copy.) I am going to keep my eyes open (and perhaps starting-up again?) watching this energy bandwagon.

Topik: Teknologi

Modal iPod Nano Lebih Murah

8 komentarBudi Rahardjo on September 19th, 2007

Business Week menayangkan sebuah artikel yang mengatakan bahwa iPod nano yang baru, meskipun bentuknya makin besar dan makin mewah, ternyata modal untuk membuatnya lebih murah!

Sebuah tim membongkar iPod nano yang baru dan memilah-milah komponennya. Setelah dipilah-pilah, ternyata harga bahan baku dari iPod nano ini lebih murah dari generasi sebelumnya. Padahal fiturnya jauh lebih canggih. Wah, berarti Apple akan makin untung dengan setiap penjualan iPod nano tersebut, kecuali jika Apple menurunkan harganya.

Inilah hasil kemajuan teknologi. Semakin meningkat teknologi, semakin murah harga sebuah produk. Tentu saja bisa jadi harganya sama, tetapi fitur bertambah. Silahkan pilih. Yang pasti, kita sebagai konsumer sangat diuntungkan dengan kemajuan teknologi ini. Asyik!

Tapi tetap saja harus nabung nih untuk membeli iPod nano yang baru itu. Halah …

Topik: Teknologi

Menjelaskan Teknologi

DiskusiBudi Rahardjo on September 14th, 2007

Merasuknya teknologi dalam kehidupan sehari-hari kita sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Hanya saja teknologi ini sudah demikian rumitnya sehingga seringkali diperlukan penjelasan yang ribet juga. Bagaimana menjelasakan teknologi (yang rumit tersebut) ke dalam bahasa yang mudah dimengerti? Nah, inilah tantangan para insinyur (engineer).

Sekarang ini topik yang sedang panas di negara kita adalah topik Nuklir. Banyak orang yang ketakutan dengan akan adanya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Hmm … Jangankan PLTN, ketika mesin ATM mulai digunakan oleh bank, banyak orang yang takut menggunakannya. Sekarang, ATM sudah tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. (Berapa kali Anda mengunjungi ATM bulan ini? Bagaimana kalau mesin ATM bank Anda mati satu tahun? Anda pasti pindah bank.)

Problemnya adalah para insinyur dan ilmuwan sering kurang mahir dalam mengkomunikasikan hasil penelitiannya ke dalam bahasa yang mudah dimengerti. Untuk itu diperlukan jembatan-jembatan (bridge) yang dapat menghubungkan “bahasa planet” dan bahasa manusia biasa. (Blog ini dan blog sejenis - seperti Netsains - merupakan salah satu jembatan tersebut.)

Menjelaskan hal teknis ke dalam bahasa yang mudah dimengerti ini sering diremehkan oleh para insinyur dan ilmuwan. Nulis di koran, majalah, apalagi blog tidak gagah. Selain itu, hasil tulisannya juga tidak mendapat nilai (kum) yang dapat digunakan oleh mereka untuk menaikkan pangkat. Saya sendiri menulis secara rutin di berbagai majalah populer. Ini semua tidak mendapat penghargaan di tingkat akademik. Singkatnya, tidak ada insentif untuk melakukan ini semua. Akibatnya justru muncul orang yang tidak kompeten dalam menjelaskan hal teknis. Masyarakat kemudian memiliki persepsi yang salah mengenai berbagai aspek dari teknologi.

Bagaimana membujuk para ilmuwan dan insinyur untuk lebih banyak menulis?

Topik: Teknologi

Definisi Teknologi

5 komentarBudi Rahardjo on September 1st, 2007

Kuliah sudah dimulai lagi di ITB. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mengajar kuliah Konsep Teknologi untuk beberapa mahasiswa tahun pertama. Tugas pertama saya adalah: “apa itu Teknologi”. Nah lho. Hayo, apa jawabannya? Apa bedanya “teknologi” dengan “teknil”, seperti misalnya di dalam kata Teknik Elektro?.

Kemudian, apa bentuk dari teknologi itu? Produk? Kertas (maksudnya tulisan)? Atau apa? Ambil saja contoh “teknologi pertanian” atau bahkan “teknologi informasi”.

Hint: coba lihat asal katanya …

Topik: Seni, Teknologi

Digital Culture

2 komentarBudi Rahardjo on August 14th, 2007

Tanggal 6 dan 7 Agustus 2007 yang lalu, di ITB ada Konferensi Rural ICT. Salah satu tema yang diangkat adalah Digital Culture. Acaranya cukup seru. Ada peluncuran TV kampus, yang bisa diartikan sebagai Digital Channel. Yang agak sedikit konvensional adalah Wayang Golek. Yang tidak sempat saya tonton, tapi judulnya bagus adalah “Workshop Portable Media Lab”.

Apakah adanya teknologi baru, yang umumnya berbasis digital, akan mengubah pola hidup kita? Apakah Digital Culture atau e-culture (eh, apa bagusnya malah disebut “kultur-e”? he he he) ini akan membuat hidup kita menjadi lebih baik? Waktu yang akan menentukan.

Tentu saja kita tidak usah berdiam diri, berserah diri kepada waktu. Ada banyak inovasi yang bisa kita lakukan. Misalnya, saya punya ide membuat sebuah acara dialog (interaksi) antara saya dengan karakter yang ada di komputer secara real time. Nah, untuk ini perlu dikembangkan softwarenya. Belum lagi nanti ada sendratari digital. Bentuknya bagaimana? Itulah yang perlu kita rumuskan bersama-sama. Jangan sampai keduluan negara lain.

Ayo …

Topik: Art, Technology

Software Cost Estimation is a Black Art

5 komentarBudi Rahardjo on July 26th, 2007

I am reading two books. They are all on software cost estimation. Apparently, it is difficult to estimate the cost of a software or application if you have to build one. It is still considered an art. Whoa! There’s the word “art” again in the context of technology.

These books poke on issues realted to software cost estimation. There’s science behind it. That’s the theory, but if you’re looking for magic mathematical formulas, you’re going to be frustrated. You won’t find one. There are efforts to create some sort of formulas, such as the cocomo model, but they still have some problems. I don’t know if they can be implemented in our (Indonesian) environment. In any case, we’re still looking for some sort of (mathematical) foundation to make the estimation more accurate.

Oh, yeah, the books are:

  1. Steve McConnell, “Software Estimation: Demystifying the Black Art,” Microsoft Press, 2006
  2. Shari L. Pfleeger, Felicia Wu, and Rosalind Lewis, “Software Cost Estimation and Sizing Methods: Issues and Guideliness,” Rand Corporation, 2005.

They are good books. Recommended.

Topik: Teknologi

Liarnya Teknologi

5 komentarBudi Rahardjo on July 15th, 2007

Teknologi seharusnya bisa mensejahterakan kita, tetapi teknologi juga bisa membuat kita pusing tujuh keliling.

Teknologi komputer dan telekomunikasi memungkinkan berbagai hal yang dahulu tidak dimungkinkan. Tulisan yang dahulu harus ditulis dengan tangan bisa dicetak dengan mesin cetak kemudian dengan komputer. Tulisan dalam bentuk buku tadinya memenuhi ruang perpustakaan, sekarang bisa masuk dalam saku dalam bentuk flash disk.

Lagu yang tadinya berbentuk analog dan harus dijual dalam bentuk piringan hitam dan kaset, lagi-lagi, bisa masuk dalam saku. Televisi yang tadinya hanya bisa dinikmati di ruang keluarga, sekarang sudah muncul dalam genggaman tangan. Demikian pula dengan radio.

Kesemuanya ini (seharusnya) membuat kualitas hidup kita meningkat. Namun ternyata kemudahan ini membingungkan pembuat kebijakan (regulator).

Di Indonesia saat ini ada dua undang-undang dan satu RUU yang saling tumpang tindih; (1) UU Telekomunikasi, (2) UU Penyiaran, dan (3) RUU Informasi dan Transaksi Elektronik. Sebagai contoh, jika sebuah stasiun televisi menyiarkan programnya melalui handphone (via 3G, 3,5G, HSDPA, dan seterusnya) apakah diperlukan ijin (penyiaran)? Jika saya membuat sebuah radio menggunakan jaringan internet, apakah perlu ijin penyiaran? Bagaimana dengan podcasting? Dan masih banyak lagi. Mumet… Memang teknologi ini bisa “liar” juga ya.

Katanya ada trend untuk menyatukan undang-undang di atas dengan nama harmonisasi. Hmm…

Saya hanya titip agar jangan sampai pemanfaatan teknologi dibendung dengan UU dan bahkan di-kriminalisasi-kan (seperti misalnya kasus VoIP). Itu saja.

Topik: Teknologi

Pendanaan Dalam Usaha Teknologi Informasi

22 komentarBudi Rahardjo on July 12th, 2007

Sebuah survey di lingkungan Bandung High Tech Valley (BHTV) menunjukkan bahwa modal merupakan masalah kedua yang dihadapi oleh perusahaan yang terkait dengan teknologi informasi. Masalah pertama adalah masalah pemasaran dan yang ketiga adalah sumber daya manusia (SDM).

Pendanaan usaha teknologi informasi di luar negeri umumnya menggunakan modal ventura (venture capital, VC). Sementara itu di Indonesia, VC berlaku mirip seperti bank. Mereka umumnya belum mau mengambil risiko yang besar sebagaimana yang dilakukan VC di luar negeri. Jadi apa yang harus dilakukan oleh pengusaha teknologi informasi di Indonesia?

Ketika mereka mencoba menghubungi bank untuk mendapatkan pendanaan, ternyata ada banyak masalah. Pihak bank belum banyak mengetahui industri ini. Biasanya pendanaan dari bank membutuhkan agunan. Apa yang bisa dijadikan agunan dalam industri teknologi informasi? Biasanya industri ini berbasis ide, atau otak. Paling-paling yang bisa dijadikan agunan adalah komputer. Berapa sih harga komputer?

Dengan kata lain, usaha teknologi informasi belum bankable. Wah. Bagaimana pendapat dan pengalaman Anda? Apa yang bankable dari usaha teknologi informasi? Kalau tidak ada, apa kita pindah industri saja? Jual beli kambing aja?

Topik: Teknologi

GURU: Laboratorium Virtual

3 komentarBudi Rahardjo on July 11th, 2007

Harian Bisnis Indonesia menampilkan berita tentang GURU, aplikasi virtual reality (VR) yang dikembangkan oleh beberapa mahasiswa Teknik Informatika ITB (Victor, Andri, Audi Primadhanty, Pascal). Aplikasi ini menggunakan kombinasi sarung tangan elektronik (untuk mendeteksi gerakan tangan dan jari) dan kacamata digital (untuk melihat peragaan 3 dimensi).

Saya cukup senang juga mendengar berita ini karena tadinya saya pikir dunia virtual reality sudah mati suri. Ternyata masih ada tanda-tanda kehidupan di sana. Entah kalau di dunia sana (maksudnya di negara lain, bukan di dunia virtual - ha ha ha).

Aplikasi yang dibidik oleh GURU adalah aplikasi pendidikan, sesuai dengan namanya. Pengguna dapat belajar mengenai apa saja dan dapat berinteraksi dalam bentuk tiga dimensi. Tapi, kalau melihat kondisi Indonesia, kemungkinan aplikasi Games akan lebih cepat dapat diterima daripada aplikasi pendidikan ya? Hanya saja, main DOOM saja sudah bikin pusing, apalagi kalau pakai aplikasi ini ya? Betul-betul bisa terasa di dunia sana (kali ini di dunia virtual, maksudnya).

Topik: Seni, Teknologi

iPod, Contoh Produk Teknologi Yang Berseni

11 komentarBudi Rahardjo on July 10th, 2007

Ingin tahu contoh gabungan (produk) teknologi dan seni? Jawabannya adalah iPod buatan Apple itu.

Sebelum membeli iPod nano, saya sudah memiliki dua buah pemutar MP3 (MP3 player). Tadinya saya berpikir, apa sih hebatnya iPod sehingga orang membeli produk ini. Dia kan bukan produk MP3 yang pertama. Biasanya pasar kan didominasi oleh yang pertama keluar.

Ternyata setelah membeli iPod nano itu saya baru bisa merasakan perbedaannya. Setelah merasakan iPod ini, lantas saya tidak bisa lepas dari dia. Desain dari iPod ini memang luar biasa. Sederhana. Di dalam kesederhanaannya itu terdapat teknologi yang luar biasa.

Lihat saja bagaimana Apple membuat user interface yang menarik dengan keterbatasan ruang untuk meletakkan tombol pengatur operasi iPod itu. Dengan hanya memutar dial yang elegan, maka saya bisa mengakses menu yang tersusun dengan rapi. Pada pemutar MP3 lainnya, hal ini dikerjakan sambil lalu saja. Para pembuat pemutar MP3 lainnya ini tidak memiliki rasa seni. (They don’t have good taste.)

Tentu saja penampilan yang cantik tanpa didukung dengan penerapan teknologi yang benar tidak ada artinya. Benda kita hanya akan menjadi pajangan saja atau malah jadi ganjel pintu.

Harus diakui Apple memang sangat menguasai pembuatan software yang elegan. Steve Jobs sendiri mengatakan bahwa Apple itu sebetulnya adalah perusahaan software. iPod itu sebenarnya hanya software yang memiliki kotak yang indah.

iPod dan iTunes menyelamatkan Apple dari kebangkrutan. Apple yang sudah akan karam ternyata muncul ke permukaan dan bahkan merajai dunia musik digital. Oh ya, memang Steve Jobs dan Apple dikenal dengan produk-produknya yang elegan - berseni. Bayangkan kalau produk mereka hanya berbentuk kotak dengan LCD seadanya saja, sudah pasti Apple karam betulan.

Art and Tech is part of Asia Blogging Network