Art and Tech

Budi Rahardjo’s Thoughts

Topik: Teknologi

Dicari: Teknologi Yang Khas Indonesia

11 komentarBudi Rahardjo on June 27th, 2007

Ada orang yang mengatakan bahwa teknologi itu netral. Namun ternyata penerimaan pemanfaat teknologi, dalam bentuk produk, itu masih mengandung pertanyaan. Ada produk yang mudah diterima di sebuah komunitas, tetapi kalah di komunitas lain.

Kita ambil contoh. Friendster sangat digemari oleh orang Indonesia, sementara itu orang Amerika lebih menggemari myspace dan orang Brazil lebih menggemari Orkut. Mengapa demikian? Kajian teknis semata ternyata belum berhasil menghasilkan jawaban yang memuaskan. Ada aspek kultur yang kental di sini. (Hayo, antropolog? budayawan? angkat bicara dengan analisa Anda!)

Ada juga teknologi yang ternyata pemanfaatannya berbeda dengan yang direncanakan. Wartel merupakan salah satu pemanfatan teknologi yang khas Indonesia. Ada lagi yang menarik, yaitu ojek! Mungkin tidak pernah terbayang oleh pabrik motor di luar negeri bahwa motor akan dijakan alat transportasi publik. Ini hanya ada di Indonesia. Lucu memang.

Nah, saat ini ada beberapa kawan yang sedang mencoba membujuk perusahaan asing - khususnya perusaan yang bergerak di bidang IT - untuk melakukan penelitian teknologi yang khas Indonesia. Penelitian ini tidak mungkin dilakukan di luar negeri karena di sana tidak dikenal yang namanya wartel atau ojek. Penelitiannya harus di Indonesia. Mudah-mudahan mereka sadar akan hal ini dan membuka divisi penelitiannya di Indonesia. Sementara itu kita mulai cari teknologi yang khas Indonesia yuk … Kita cari “ojek”nya IT.

Topik: Seni, Teknologi

Seni Dalam Pengembangan Software

14 komentarBudi Rahardjo on June 17th, 2007

Saya ingin mencoba mengajak para pembaca untuk melihat software sebuah karya seni. Atau kalau dilihat dari sisi lain, saya mencoba mengajak pengembang software (aplikasi) untuk tidak melupakan aspek seni dalam produk yang dia kembangkan.

Begini. Pengembangan software itu sama seperti menciptakan lukisan atau patung. Kita bergerak dari sesuatu yang tidak ada. Editor teks masih kosong. Kemudian kita ketikkan baris demi baris yang kemudian akhirnya menjadi sebuah program. Kita jalankan program tersebut dan program tersebut mengeluarkan teks atau gambar sebagai responnya. Luar biasa, bukan?

Perasaan luar biasa ini muncul ketika pertama kali saya membuat program (dengan membaca listing dari sebuah buku dan mengetikkannya kembali). Setelah saya ketikkan dan di-run, program menghasilkan keluaran sesuai dengan apa yang kita masukkan. Kita seperti membuat sebuah ciptaan yang merespon. Tidak sehebat “manusia” ciptaan kita ini, tapi tetap bisa merespon.

Setelah saya pikir, perasaan ini mungkin sama seperti perasaan seorang pelukis ketika dia selesai membuat sebuah lukisan. Kalau dipikirkan lebih jauh lagi, dari tidak ada menjadi ada. Wah ini kan sesuatu yang dimiliki oleh Tuhan. Ha? Mungkin itulah sebabnya orang ingin mencipta? Ingin mendapatkan sedikit kemampuan yang dimiliki Tuhannya? Entahlah.

Kembali ke masalah seni. Software bisa dibuat dengan mengabaikan aspek seni. Yang penting dia berfungsi (jalan) seperti yang diinginkan. Betul, memang bisa demikian, tapi mengapa Anda tidak ingin mengembangkan sesuatu yang bisa jalan tapi juga enak dipandang, mudah digunakan?

Ketika saya berbicara mengenai seni dalam pengembangan software, saya tidak hanya berbicara mengenai tampilannya saja. Justru saya ingin mengajak pengembang software untuk melihat di bawahnya, yaitu di bagian source code-nya. Bandingkan dua kode di bawah ini. Keduanya memiliki fungsi dan output yang sama. Mana yang lebih Anda sukai?


/* Contoh pertama */
#include <iostream>
using namespace std;
  int main() { int x, y, z;
cout << "Masukkan bilangan integer x: "; cin >> x;
    cout << "Masukkan bilangan integer y: "; cin  >> y;
z = x * y; cout << "Hasil perkalian keduanya   : " << z << "\n"; }


/* Contoh Kedua */
#include <iostream>
using namespace std;

int main()
{
        int x, y, z;
        cout << "Masukkan bilangan integer x: ";
        cin >> x;
        cout << "Masukkan bilangan integer y: ";
        cin >> y;
        z = x * y;
        cout << "Hasil perkalian keduanya   : " << z << "\n";
}

Saya pribadi lebih suka contoh kedua karena contoh yang pertama acak adut, alias tidak karuan. Ini baru contoh untuk masalah rapinya source code. Di tulisan lain akan saya tunjukkan puisi di dalam source code. Pokoknya menarik. Itulah sebabnya mari kita lihat source code di software open source.

Topik: Art, Technology

No Respect for Digital

7 komentarBudi Rahardjo on June 13th, 2007

I had an on-line discussion about digital technology and how it relates to music, photography, and the like - basically arts. Based on the discussion, I’ve got an impression that digital technology still does not get the respect it deserves.

Many people still think that photos taken by digital cameras are not “as good” as conventional, analog camera. Thus, they are not really photography. An image drawn using Photoshop is not “as good” as painting directly on canvas. A friend of mine asked, “would you spend $1000 for a picture done with Photoshop?” Ouch. There are people who would paid hundreds of thousands dollars for “real” pictures. The same thing for music.

In short, digital arts are still “not art” at all. What do you think?

I’ve got no r e s p e c t!.

Mr. Digitalman

Topik: Art, Technology

Digital music is on the rise

3 komentarBudi Rahardjo on June 13th, 2007

Look around. You will see a new change in how people listen to music. Gone are the days when they carry CDs. Cassettes? You are kidding, aren’t you? My kids don’t have cassettes. People are listening to MP3. In offices, each person has his or her own computer with a pair of speakers or headphones. Students now carry their own USB flash disks with built in MP3 players. Their cellphones already have MP3 capability too.

We can see that digital music, mostly in form of MP3, is on the rise. Even in Indonesia. You can deny it (mostly music labels), or you can accept it (like iTunes).

Selengkapnya »

Topik: Seni, Teknologi

Seni dan Teknologi

10 komentarBudi Rahardjo on June 11th, 2007

Selamat datang di kolom mengenai seni dan teknologi. Mungkin mengherankan bagi Anda karena saya menggabungkan seni dengan teknologi. Ini ada ceritanya, yang cukup panjang. Untuk sementara cerita itu akan saya tunda. Namun seorang kawan saya pernah bercerita kepada saya bahwa kata “seni” dan “teknologi” di dalam bahasa Yunani memiliki akar kata yang sama. Apa itu? Nah, itu pekerjaan rumah untuk Anda sekalian.

Ha? Bagaimana ini? Belum apa-apa kok para pembaca diberi pekerjaan rumah? Saya senang melibatkan pembaca dalam proses pemahaman karena dengan keterlibatan itu apa yang kita pelajari lebih bisa melekat. Di saat yang sama, saya juga bisa belajar banyak dari para pembaca tulisan ini.

Selengkapnya »

Art and Tech is part of Asia Blogging Network