Isu sosial dan cerita dari lapangan terkait dengan Open Source
Diskusi — Ikhlasul Amal on May 14th, 2008
Pesta peluncuran Ubuntu 8.04 Hardy Heron telah dilangsungkan hari Sabtu lalu oleh KLuB Bandung. Bertempat di Common Room — seperti halnya perhelatan untuk Feisty Fawn, acara kali ini tetap meriah dari sisi hadirin. Jika peluncuran Fawn menjadi cikal-bakal reaktivasi kegiatan KLuB, yang merupakan representasi kelompok pengguna Linux di Bandung, acara Sabtu lalu lebih pada meneguhkan kegiatan komunitas. Uniknya di milis sempat terangkat pertanyaan: mengapa hanya peluncuran Ubuntu yang dirayakan, bagaimana dengan distribusi Linux lainnya?
Koleksi foto acara dapat dilihat di Flickr.
Diskusi — Ikhlasul Amal on March 22nd, 2008
Dengan daftar A hingga Z di Google Summer Code 2008, inilah perhelatan untuk pengembang kode terbuka (Open Source) paling besar, super-meriah, dan bergengsi. Hampir semua proyek aktif di lingkungan perangkat lunak bebas masuk daftar di sana. Bahasa pemrograman bertabur seperti Perl, PHP, Python, Ruby; sejumlah alat bantu pengembangan, aplikasi grafik, CMS sohor seperti Drupal, Joomla, hingga WordPress.
Seperti tiada yang terlewat dari perangkat lunak bebas oleh Google. Mulai penyediaan repositori, yang disebut-sebut sudah mengatasi SourceForge, termasuk di dalamnya mailing list dan wiki, hingga situs web yang mudah disesuaikan dengan keperluan komunitas.
Semua gratis, tinggal ide pengembang untuk menjadikan fasilitas dari Google meriah didatangi komunitas.
Ada peserta dari Indonesia yang siap mengikuti Summer Code 2008 tersebut? Pendaftaran menjadi peserta ditutup Senin lusa, 24 Maret.
Topik: Distribusi, Warta
Diskusi — Ikhlasul Amal on March 22nd, 2008
Berkebalikan dengan kecenderungan akhir-akhir ini untuk membuat distribusi GNU/Linux berbasis keperluan pemakai yang lebih spesifik — seperti Edubuntu untuk dunia pendidikan atau Kuliax untuk mahasiswa, IGOS Dwi Warna diciptakan dengan semangat, “untuk beragam kebutuhan.” Disebut secara eksplisit untuk keperluan perkantoran/desktop dan sebagai server; masih ada tambahan lagi: dapat juga dipakai untuk kebutuhan lainnya.
Spesifikasi teknis: berbasis Fedora 8, terdiri atas lima keping cakram optik (CD/DVD). Model yang digunakan: media untuk instalasi (installer) dan untuk langsung digunakan (live).
Topik: Manajemen
1 komentar — Ikhlasul Amal on March 22nd, 2008
Ariya Hidayat menulis senarai faktor kegagalan proyek yang diset Open Source. Kesepuluh faktor tersebut berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama ini.
Daftar atau diskusi kegagalan proyek TI sudah beberapa kali diungkap terutama di mailing list, termasuk pekerjaan Open Source. Biasanya memang menghangat dan cenderung melebar ke segala arah karena semata-mata pandangan banyak pihak. Memang tidak mudah mendapatkan benang merah persoalan di proyek Open Source; selain terdapat faktor sosial yang merupakan bagian non-teknis — dan hal ini dapat menjadi dominan di proyek Open Source, karakter pengembangan dengan kode yang terbuka tentu khas.
Diskusi — Ikhlasul Amal on March 13th, 2008
Di samping KLuB telah berdiri Telapak Technology Solutions (TTS), sebuah organisasi yang disebut sebagai “badan usaha” untuk produk Open Source. Salah satu cetusan kemunculan Telapak adalah wacana badan usaha yang cocok dengan Kelompok Pemakai Linux Indonesia. Telapak sendiri disebut telah dirintis semenjak bulan Desember 2007.
Di salah satu ulir diskusi yang sedang aktif, pembagian sederhana untuk pekerjaan yang diambil KLuB dan Telapak adalah dari sifat kegiatan. Ringkasnya: untuk kegiatan non-profit diserahkan ke KLuB, sedangkan kegiatan profit untuk Telapak. Konsekuensinya: anggota KLuB yang berkomitmen ke Telapak dianggap sebagai staf dan sebagian hasil dari badan usaha tersebut akan dianggarkan untuk KLuB. Beberapa pekerjaan yang mulai dirintis adalah pelatihan. Kemungkinan sektor pendidikan memang lebih dekat dengan gagasan perangkat lunak bebas, ditambah daerah pasar yang digarap umumnya di sekitar perguruan tinggi.
1 komentar — Ikhlasul Amal on February 23rd, 2008
Poin keempat dari sepuluh “kesimpulan” pengamatan Eko Budhi Suprasetiawan ihwal “Linux Kurang Tersebar — Gara-gara Bebas” adalah adanya lapangan kerja yang tercipta oleh perangkat lunak komersial, dalam hal ini dicontohkan Microsoft Windows. Dari beberapa diskusi dan semiloka yang pernah saya ikuti, Microsoft dipuji dalam hal penciptaan ekosistem di sekitarnya. Banyak pihak beroleh keuntungan profit dengan bergabung di ekosistem tersebut: pengembang, dukungan teknis, pedagang produk, dsb.
Saya pribadi setuju bahwa saat ini kondisi negara kita memerlukan sesuatu yang menggelinding dan menggerakkan banyak pihak untuk aktif dan berbagi manfaat. Salah satunya adalah ekosistem yang disebut Eko sebagai “halal.” Kendati perangkat lunak bebas tidak identik dengan gratis dan seyogyanya dapat memutar aliran duit juga, namun tampaknya belum terlalu menjanjikan dibanding ekosistem Microsoft.
Apakah hal ini artinya perangkat lunak non-komersial tidak menggairahkan pelaku bisnis dibanding produk komersial?
Topik: Desktop/Klien
4 komentar — Ikhlasul Amal on February 16th, 2008
Akhir pekan lalu adalah “Hari EEE PC” yang diluncurkan oleh Asus di Bee Mall Bandung, setelah sebelumnya di Jakarta. Sore hari setelah acara antri, saya bertemu Rendy Maulana dan mendapat konfirmasi bahwa notebook mini tersebut sudah habis terjual. Salah seorang teman di kantor malah memesan dua unit, untuk dia dan adiknya. Budi Rahardjo juga bercerita tentang EEE warna merah muda yang dipinjamkan padanya. Konon tiga sesepuh aktivis perangkat lunak bebas Indonesia hadir di acara di Bandung.
Apa kaitan notebook mungil ini dengan perangkat lunak bebas?
Topik: Lisensi, Operasional, Server
1 komentar — Ikhlasul Amal on January 1st, 2008
Jason Sobel, salah seorang insinyur di Facebook, menulis pengakuannya akan keuntungan pemakaian MySQL yang berlisensi Open Source tatkala Facebook perlu replikasi basisdata antar-pusatdata.
3 komentar — Ikhlasul Amal on December 26th, 2007
Berita akhir tahun dari mailing list Linux Aktivis adalah Kluwek: Kelompok Linux Cewek. Betul, dunia Linux Indonesia akan diramaikan oleh aktivis perempuan — mengingatkan saya akan LinuxChix. Apakah memang perlu sebuah wadah khusus untuk perempuan?
Entah alasannya, dunia TI di sekitar saya sangat bersuasana maskulin. Semasa kuliah saya pikir teknologi informasi “cukup lunak” dan atraktif menarik minat calon mahasiswi — bandingkan dengan Teknik Mesin misalnya. Namun ternyata seingat saya hanya ada sekitar 20% mahasiswi dan dari jumlah yang sedikit tersebut, lebih sedikit lagi yang kemudian berkiprah di dunia TI praktis. Sebagian besar berkarir di dunia pendidikan, sebagai dosen.
Diskusi — Ikhlasul Amal on December 21st, 2007
Ferry Haris mengingatkan bahwa tahun baru segera tiba dan rencana agenda kegiatan tahun 2008 untuk aktivitas KPLI ditunggu sebagai kelengkapan agenda kegiatan FOSS-ID di bawah Departemen Kominfo.
Kebetulan juga di akhir tahun ini beberapa KPLI dibicarakan di diskusi Linux Aktivis, seperti halnya Bekasi dan Pekanbaru. Di Bandung, KLuB, juga hidup kembali setelah disegarkan oleh barisan angkatan baru.
Tentang agenda, sinergi dengan FOSS-ID ditunggu dengan mengirimkan email ke helpdesk.fossid@gmail.com. Di ulir diskusi lain disebutkan bahwa kini FOSS-ID sudah memiliki tim bantuan teknis, merujuk ke http://www.foss-id.web.id/helpdesk/ dan nomor telpon (021) 920 118 66.
Recent Comments