Open Source

Isu sosial dan cerita dari lapangan terkait dengan Open Source

Penertiban Perangkat Lunak akan Mendorong Pemakaian Perangkat Lunak Bebas?

Salah seorang saudara yang tinggal di Semarang melaporkan bahwa razia perangkat lunak di kota lumpia tersebut sedang gencar dilakukan oleh aparat keamanan. Konon kabarnya petugas memburu hingga memasuki kamar-kamar di dalamnya untuk memeriksa kemungkinan terdapat komputer yang disembunyikan.

Alpha Bagus Sunggono hingga perlu menulis retorika di milis Linux Aktivis mengajak aktivis perangkat lunak bebas untuk bangun dan menjalankan revolusi. Dalam pengertian mengajak masyarakat TI di Indonesia beralih ke perangkat lunak bebas sebagai alternatif menghadapi penegakan hukum di bidang perangkat lunak.

Jika dilihat dari sosiologi masyarakat di Indonesia yang dalam beberapa hal bersifat reaktif — bertindak setelah terdapat tekanan, momen penertiban perangkat lunak dapat digunakan sebagai salah satu tekanan untuk mengambil keputusan. Hasilnya dapat berupa migrasi sistem ke perangkat lunak bebas atau melanjutkan pengoperasian perangkat lunak komersial dengan membeli lisensi. Yang perlu disadari keduanya perlu ongkos, baik berupa uang yang harus dibelanjakan atau sumber daya lain yang perlu disediakan. Bisa jadi dalam bentuk waktu untuk pelatihan atau sosialisasi.

Alasan mereka yang melanjutkan penggunaan sistem operasi Microsoft Windows misalnya, bervariasi dari “faktor kebiasaan pemakai” (yang sering salah kaprah diterjemahkan sebagai user friendly) hingga ihwal kesulitan teknis seperti perangkat lunak permainan (game) yang hanya dapat dijalankan di atas Microsoft Windows.

Menarik dicermati berikutnya: siapa yang akan migrasi ke perangkat lunak bebas setelah penertiban sekarang? Apakah hanya mengulang kisah-kisah penertiban sebelumnya?

Ada 3 komentar untuk artikel ini. Ikuti diskusi

  1. Wibisono Sastrodiwiryo

    Sekarang udah mulai banyak bundle PC/notebook yang dijual dengan linux sebagai OS.

    Tapi yah gitu, saya perhatiin bundel PC+Win masih lebih diminati karena memang memberi utilisasi lebih banyak ketimbang bundle PC+linux

    Contohnya notebook Axio atau Centaur yang ada fasilitasnya webcamnya. Pada bundle Win udah bisa dipakai webcamnya tapi pada bundle Linux belum bisa dipakai webcamnya (gak punya drivernya)

    Itu baru webcam belum fasilitas yang lain seperti wifi, bluetooth, USB, cardreader dll

    Bahkan yang parah kemarin waktu saya liat produk notebook acer terbaru aspire 52xx, designya cantik banget dan memang tidak ada OSnya, tapi oleh pedagangnya dipasangin linux mandriva yang gak sukses install xwin.

    Jadi text mode doang. Sekarang siapa yang mau beli notebook begitu? saya rencana mau beli karena murah 5,5 juta tapi ntar dulu deh kalo udah ada yang sukses install ubuntu pake xwin dengan semua periferal sukses diinstall (webcam, wifi, USB, cardread dan bluetooth)

    August 16th, 2007 at 17:46

  2. Irwin Day

    Percuma, selama akar permasalahan yaitu dibidang pendidikan tidak dibenahi, jika ingin generasi berikutnya ber-open source, maka sejak dini di bidang pendidikan mereka dicekoki dengan Open Source. User Friendly itu gak terbukti, saya nggak friendly ama MacOS, karena gak pernah menggunakan MacOS.

    November 27th, 2007 at 11:24

  3. firza ilhami

    open source ga harus gratis dan linux lho…

    December 7th, 2007 at 12:57

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Anda setuju dengan kebijakan privasi Asia Blogging Network.

Open Source is part of Asia Blogging Network