Isu sosial dan cerita dari lapangan terkait dengan Open Source
Dua peristiwa menarik yang berseberangan baru saja terjadi di negara tetangga kita, Burma dan Vietnam.
Burma telah menjadi perhatian dunia saat ribuan pendeta Buddha turun ke jalan dan dilanjutkan dukungan dari banyak warga Burma di seluruh dunia lewat jejaring sosial. Hasilnya: sejumlah analis menyebut aksi tersebut sebagai Politik Open Source atau Politik 2.0. Junta militer melakukan tekanan keras dan dihadapi dengan partisipasi akar rumput. Open Source yang muncul dari bawah diangkat sebagai istilah dengan arti lebih luas.
Akan halnya Vietnam, Willy Sudiarto Raharjo mengutipkan dari Vietnamnet, akan keputusan sejumlah lembaga pemerintah di sana yang memutuskan pindah ke solusi Open Source. Alasan yang dikemukakan adalah harga perangkat lunak komersial yang terlalu mahal. Willy menggarisbawahi bagian yang disebut penting pada migrasi ke Open Source tersebut bahwa persoalan kebiasaan pengguna lebih penting dibanding urusan teknis.
Bagaimana dengan kita? Tentu bukan gerakan keras perlawanan akar rumput — apalagi dengan isu politis — seperti di Burma, namun tampaknya belum segigih Vietnam. Perlawanan dari masyarakat sendiri terhadap kondisi kesulitan terhadap perangkat lunak komersial terkadang masih terantuk dengan sikap menentang operasi penertiban pemakaian perangkat lunak ilegal semata-mata faktor kebiasaan yang sudah mendarah daging.
Artikel dituliskan oleh Ikhlasul Amal pada Thursday, October 18th, 2007 pukul 07:58. Diarsipkan dalam kategori Gerakan, Sosial. Anda dapat mengikuti diskusi melalui layanan sindikasi komentar.
Anda dapat mengikut diskusi dengan meninggalkan komentar, atau lacak balik dari situs Anda.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.