Isu sosial dan cerita dari lapangan terkait dengan Open Source
Poin keempat dari sepuluh “kesimpulan” pengamatan Eko Budhi Suprasetiawan ihwal “Linux Kurang Tersebar — Gara-gara Bebas” adalah adanya lapangan kerja yang tercipta oleh perangkat lunak komersial, dalam hal ini dicontohkan Microsoft Windows. Dari beberapa diskusi dan semiloka yang pernah saya ikuti, Microsoft dipuji dalam hal penciptaan ekosistem di sekitarnya. Banyak pihak beroleh keuntungan profit dengan bergabung di ekosistem tersebut: pengembang, dukungan teknis, pedagang produk, dsb.
Saya pribadi setuju bahwa saat ini kondisi negara kita memerlukan sesuatu yang menggelinding dan menggerakkan banyak pihak untuk aktif dan berbagi manfaat. Salah satunya adalah ekosistem yang disebut Eko sebagai “halal.” Kendati perangkat lunak bebas tidak identik dengan gratis dan seyogyanya dapat memutar aliran duit juga, namun tampaknya belum terlalu menjanjikan dibanding ekosistem Microsoft.
Apakah hal ini artinya perangkat lunak non-komersial tidak menggairahkan pelaku bisnis dibanding produk komersial?
Saya mengusulkan agar kita melihat sisi manfaat. Jika produk perangkat lunak bebas dijual cuma-cuma, orang-orang di sekitarnya tetap dapat dirangsang untuk aktif dengan cara “membeli” layanan yang dapat mereka sediakan. Kita memang tidak akan menyusun sebuah ekosistem bisnis yang besar dan dengan duit berputar dalam skala besar seperti pada kasus ekosistem Microsoft, namun dengan mencarikan elemen-elemen yang berkait dengannya dari sumber daya lokal — terutama sumber daya manusia — saya punya keyakinan bahwa aliran uang dapat diciptakan.
Terobosan pertama adalah investasi. Ayo berinvestasi dalam bentuk sosialisasi perangkat lunak bebas — dalam pengertian luas. Biayai penyebaran media distribusi, ongkosi para pelatih perangkat lunak bebas, dan jika perlu sedekahkan sebagian dana kita dalam bentuk ongkos pemeliharaan perangkat lunak bebas untuk organisasi sosial.
Dengan sedikit contoh di atas, yang diharapkan adalah sebuah guliran bahwa ekosistem dapat dibentuk tidak hanya untuk keperluan bisnis, melainkan juga berbasis asas manfaat.
Memang hal ini lebih condong sebagai gerakan sosial dibanding “semua untung karena dapat uang.” Dalam situasi seperti di negara kita dan kondisi alamiah perangkat lunak bebas, perlu terobosan awal.
Saya lihat di ulir diskusi selanjutnya, S Roestam mengusulkan banyak perbaikan pendidikan nasional berbasis perangkat lunak bebas. Sayangnya alokasi dana untuk SDM masih belum disebut, malah terpancang pada infrastruktur.
Bukan infrastruktur tak penting, namun perlu diingat di sekitar kita masih berlaku anggapan umum, Mana bagian duit untuk saya?
Artikel dituliskan oleh Ikhlasul Amal pada Saturday, February 23rd, 2008 pukul 14:25. Diarsipkan dalam kategori Gerakan, Sosial. Anda dapat mengikuti diskusi melalui layanan sindikasi komentar.
Anda dapat mengikut diskusi dengan meninggalkan komentar, atau lacak balik dari situs Anda.
Satu komentar untuk artikel ini. Ikuti diskusi
balian
salam hormat,
saya setuju dengan pendapat diatas, bahwa sebuah guliran bahwa ekosistem dapat dibentuk tidak hanya untuk keperluan bisnis, melainkan juga berbasis asas manfaat.karena sebuah pengetahuan akan mencapai sasarannya apabila dijalankan dengan benar tidak “dikotori” dengan Prinsip “Bisnis”
May 11th, 2008 at 08:06