Isu sosial dan cerita dari lapangan terkait dengan Open Source
Di samping KLuB telah berdiri Telapak Technology Solutions (TTS), sebuah organisasi yang disebut sebagai “badan usaha” untuk produk Open Source. Salah satu cetusan kemunculan Telapak adalah wacana badan usaha yang cocok dengan Kelompok Pemakai Linux Indonesia. Telapak sendiri disebut telah dirintis semenjak bulan Desember 2007.
Di salah satu ulir diskusi yang sedang aktif, pembagian sederhana untuk pekerjaan yang diambil KLuB dan Telapak adalah dari sifat kegiatan. Ringkasnya: untuk kegiatan non-profit diserahkan ke KLuB, sedangkan kegiatan profit untuk Telapak. Konsekuensinya: anggota KLuB yang berkomitmen ke Telapak dianggap sebagai staf dan sebagian hasil dari badan usaha tersebut akan dianggarkan untuk KLuB. Beberapa pekerjaan yang mulai dirintis adalah pelatihan. Kemungkinan sektor pendidikan memang lebih dekat dengan gagasan perangkat lunak bebas, ditambah daerah pasar yang digarap umumnya di sekitar perguruan tinggi.
Karena pertalian kerja sama KLuB dengan Telapak ini relatif baru, apalagi diukur dari pekerjaan yang sudah jadi, eksperimen model organisasi antara sosial (KLuB) dan bisnis (Telapak) menarik diamati. Tentu yang paling signifikan adalah sifat alamiah KLuB itu sendiri yang mengalir. Kebijakan setiap periode kepengurusan sangat mungkin berlainan dan kelangsungan kerja sama dengan “organisasi lain” seperti Telapak ikut ditentukan oleh sikap pengurus saat itu.
Dilihat dari keuntungan pemisahan di atas: seandainya pun KLuB menjadi vakum (sudah pernah terjadi di periode lalu), badan usaha Telapak dapat terus berjalan. Walaupun, tentu akan menjadi pertanyaan buat pengelolanya: perlukah masih berkontribusi terhadap KLuB yang sedang vakum? Barangkali dengan asupan kegiatan dari Telapak, KLuB akan lebih berusaha bertahan untuk aktif. Ini hal yang baik juga.
Akan halnya perbedaan organisasi tersebut memang melonggarkan ikatan antara anggota KLuB secara umum dan Telapak. Nilai ikatannya akan berbeda dibanding jika misalnya badan usaha tersebut adalah koperasi di bawah KLuB sebagai organisasi.
Sudah lumrah terdapat hal yang dilihat sebagai kelebihan dan kekurangan. Sudut pandang itu pun dapat disiasati dengan cara menangani kekurangan sebagai tantangan.
Jadi kita ikuti eksperimen badan usaha di KLuB. Setidaknya mereka sudah memulai memikirkan cara berkegiatan lewat apresiasi terhadap perangkat lunak bebas dan lingkungan di sekitarnya.
Artikel dituliskan oleh Ikhlasul Amal pada Thursday, March 13th, 2008 pukul 06:03. Diarsipkan dalam kategori Gerakan, Sosial, Warta. Anda dapat mengikuti diskusi melalui layanan sindikasi komentar.
Anda dapat mengikut diskusi dengan meninggalkan komentar, atau lacak balik dari situs Anda.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.