Isu sosial dan cerita dari lapangan terkait dengan Open Source
Topik: Distribusi, Fasilitas, Sosial
1 komentar — Ikhlasul Amal on July 21st, 2007
Dari status Iwan Setiawan di Yahoo! Messenger, saya tahu dia sedang sibuk mengurus kanal Kuliax di IRC, #kuliax. Iwan, dikenal dengan identitas esteween (STWN), adalah penggagas utama Kuliax dan seperti halnya banyak proyek perangkat lunak bebas lain, IRC adalah medium yang relatif mudah untuk penyediaan dukungan teknis. Komunitas dapat ikut membantu dan layanan top justru sering datang dari pengembang utama.
Bergabung ke kanal di IRC juga mudah. Tidak perlu registrasi atau diikat sebuah layanan bermerk tertentu — sehingga tidak usah memasang perangkat lunak khusus. Bandingkan dengan layanan dari Yahoo! Messenger atau Google Talk yang perlu instalasi klien tersendiri dan hanya bertemu dengan anggota pemakai layanan yang sama.
Topik: Implementasi, Perangkat Lunak
Diskusi — Ikhlasul Amal on July 5th, 2007
Saya mengajak secara persuasif kepada seorang teman yang sedang belajar di salah satu universitas di Malaysia akan kemungkinan menggunakan Linux untuk keperluan sehari-hari. Selain persoalan kebiasaan — yang sudah lazim saya dengar juga sebagai jawaban, dia beringsut pada “tantangan” berikutnya: jika sudah lulus, dia malah tidak mungkin lagi, karena teknologi yang sekarang dipelajari (dan tentunya berharap dikuasai nanti) dalah .NET.
Secara refleks saya berdalih akan adanya Mono di atas Linux. Kendati dengan catatan bahwa saya belum terlalu yakin akan kompatibilitasnya terhadap kode yang terikat erat dengan lingkungan produk Microsoft. (Ada yang bersedia menjelaskan sejauh mana “petualangan” Mono?)
Topik: Distribusi
3 komentar — Ikhlasul Amal on July 1st, 2007
Saya sempat bertanya (dengan rasa ingin tahu): mengapa kita masih perlu membuat distribusi (atau “distro”) lokal seperti BlankOn?
Supaya tidak salah persepsi: saya bertanya, bukan mempertanyakan. Artinya saya mulai dari prasangka baik bahwa ada sesuatu yang bermanfaat dengan pekerjaan membuat distribusi tersebut. Dari pertemuan kemarin sore dengan Harry Sufehmi, yang akhir-akhir ini aktif di Ubuntu Indonesia, saya mendapat kumpulan alasan berikut:
Topik: Uncategorized
3 komentar — Ikhlasul Amal on June 27th, 2007
Dua hari lalu saya memperoleh kabar dari Thomas Arie Setiawan, perancang web di Asia Blogging, bahwa tema WordPress yang digunakan di blog ini berubah. Saya mengikuti saja karena percaya Thomas selalu menunjukkan hasil rancangan desain web yang luar biasa.
Yang ingin sekalian saya iringkan adalah rencana saya untuk memilih ceruk yang lebih spesifik lagi di sekeliling Open Source. Dengan perkembangan Open Source sebagai gerakan dan sekaligus produk-produk yang terkait dengannya, blog ini sangat mungkin kedodoran mengejar ranah Open Source yang luas.
Topik: Warta
Diskusi — Ikhlasul Amal on June 22nd, 2007
Dinas Perdagangan dan Industri Jawa Barat akan menyelenggarakan seminar dan lokakarya (semiloka) Open Source dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada tanggal 26–27 Juni ini di Hotel Naripan. Rencana penyelenggaraan semiloka ini memang mendadak, sehingga perlu gerak cepat dalam penyebaran undangan.
Kebetulan saya sendiri terlibat dalam kepanitian mewakili BHTV dan sejauh ini para pembicara dari akademisi dan praktisi. Masukan dari pelaku bisnis dan komunitas diharapkan pada semiloka nanti. KLuB, kelompok pengguna Linux di Bandung, termasuk dalam daftar undangan dan tentunya anggota yang juga aktif di BHTV.
Publikasi dan undangan dapat dilihat di blog BHTV, Semiloka “Ekosistem Bisnis Industri TIK di Indonesia”.
3 komentar — Ikhlasul Amal on June 19th, 2007
Ancaman terbesar gerakan Open Source adalah kemiskinan — demikian InfoWorld menerjemahkan ucapan CEO Jon Schwartz, merespon komentar Linus Torvald perihal GPL V3.
Kita harus meletakkan pedang — kalian bukan lawan kami, kami bukan lawan kalian. Sebagian besar [belahan] dunia tidak memiliki akses ke Internet — itulah musuh yang harus ditumpas, pembatas yang memisahkan kita.— Jon Schwartz.
1 komentar — Ikhlasul Amal on June 15th, 2007
Di beberapa tulisan yang bersifat mengajak, beberapa kali saya temukan alasan yang kira-kira berbunyi sebagai berikut,
Gunakanlah produk Open Source karena pemakai komputer akan menjadi lebih pintar — tidak sekadar menggunakan perangkat lunak, melainkan juga turut mengembangkan.
Benarkah dengan memilih produk Open Source pemakai “akan menjadi lebih pintar”? (Pada beberapa pernyataan malah menggunakan pernyataan negasi, “tidak akan bodoh”.) Tentu saja sangat mungkin, namun cukup jauh untuk mengaitkan begitu saja dengan Open Source; secara umum, motivasi individu lebih dominan dalam hal ini. Lagipula, menjadi pintar dalam hal apa? Ini juga masih menjadi pertanyaan.
Topik: Lisensi
1 komentar — Ikhlasul Amal on June 14th, 2007
Setelah kasus Java yang menjadi berlisensi Open Source, Solaris yang diharapkan akan menjadikan GPL versi 3 lebih atraktif. Ini pengakuan Linus Torvalds sendiri,
Jika Sun benar-benar akan melepas OpenSolaris dengan GPL 3, hal ini akan menjadi sebuah alasan yang bagus [untuk memindahkan Linux ke lisensi baru].
Topik: Gerakan
Diskusi — Ikhlasul Amal on June 10th, 2007
Apakah gerakan pemakaian perangkat lunak bebas itu semata-mata di lingkungan GNU/Linux? Sekalipun pertanyaan ini sering dijawab dengan lantang, “Bukaannn!”, namun tetap saja pada kenyataan masih ada pertanyaan berikutnya, “di Linux ya?” Betul, sistem operasi memang fondasi kerja komputer, namun pemakaian sistem komputer secara keseluruhan dan pemilihan bagian-bagiannya tidak harus mengikuti sebuah urutan dari sistem operasi terlebih dulu misalnya.
Mungkin saja pemakai merasakan manfaat perangkat lunak bebas justru dari aplikasi yang dipilihnya. Baru kemudian bagian lain dipertimbangkan secara bertahap.
Topik: Distribusi, Gerakan
5 komentar — Ikhlasul Amal on June 5th, 2007
Sepuluh tahun lalu, saat saya memasang GNU/Linux lagi setelah instalasi Slackware pertama dan sekaligus memulai periode “menghubungkan Linux dengan Internet” lewat koneksi dial-up, saya amati distribusi Red Hat begitu dominan di ranah diskusi komunitas pemakai di Indonesia. Saya menggunakan Mandrake, tanpa terlalu banyak pertimbangan karena cakram optik instalasi pun hasil salinan dari teman.
Saya tidak terlalu cocok dengan pemilihan paket yang disediakan Red Hat — antara lain Sendmail yang sulit disetel untuk keperluan saya. Mandrake pun pada versi berikutnya sudah “memilih jalur berbeda”, termasuk mengganti Sendmail dengan Postfix.
Recent Comments